140952_coupleflirting362Ketika diberikan harapan meskipun itu palsu, tidak sedikit orang yang tetap mempertahankan hubungan dengan pelaku pemberi harapan palsu tersebut. Mereka beranggapan si dia sedang melakukan penjajakan.Apalagi biasanya pelaku PHP ini kerap menunjukkan sikap-sikap orang yang memang tertarik untuk menjalani asmara. Seperti memberikan perhatian dan rutin berkomunikasi, menjadi sikapnya yang membuat Anda tersanjung sehingga merasa dia sebenarnya sedang PDKT.

Namun menurut psikolog Ratih Ibrahim, sebaiknya jangan berlama-lama terlena dalam perangkap pelaku PHP. Jika sejak awal dia hanya memberikan harapan palsu, bisa jadi memang si dia tidak serius.

“Kalau orang berminat membina hubungan serius, nggak mungkin PHP,” jelas Ratih saat berbincang dengan wolipop Jumat (14/12/2012).

Berdasarkan pengalamannya bertemu dan menangani banyak pasangan, Ratih sangat memperhatikan apa yang disebutnya motif. “Motif kamu menjalin hubungan apa, based on good intention atau nggak,” tukasnya. Ketika seseorang memulai hubungan dengan niat yang baik, pastinya pasangannya akan merasakan adanya ketulusan dan penghargaan.

Setelah tahu motif si dia ketika mendekati Anda, ada beberapa hal lain yang perlu diperhatikan untuk mengetahui apakah memang dia pria yang tepat atau bukan. Ratih menyarankan coba perhatikan bagaimana cara dia berbicara dan melihat Anda serta orang-orang lain.

Apa yang dikatakan Ratih di atas, senada dengan pendapat dari psikolog Rosdiana Setyaningrum. Untuk melihat seorang pria orang yang tepat atau tidak dijadikan kekasih atau calon suami, perhatikan bagaimana caranya bersikap.

“Apakah terlalu mendominasi, maksudnya merasa hanya dia yang paling benar dan Anda harus selalu nurut. Apakah dia posesif, Anda nggak boleh ke mana-mana. Suka ngomong kasar atau tidak,” urainya.

Bagaimana kalau di depan Anda dia menunjukkan sikap yang manis dan baik? Dari mana Anda tahu apakah itu sifat aslinya atau bukan? Rosdiana menyarankan perhatikan bagaimana sikapnya pada orang lain.

“Misalnya kayak kita lagi makan di restoran. Lihat aja bagaimana dia memperlakukan waiter. Di situ kita bisa tahu bagaimana dia menghargai orang lain. Lihat bagaimana dia ngobrol sama teman-temannya, sama orang. Karena kalau sama kita sudah pasti baik,” pungkas psikolog lulusan Universitas Indonesia itu.

 

sumber : wolipop