kisah ini aku tulis buat pacarku yang lagi sakit malem ini😦
semoga dia bisa membacanya😦
dan disaat dia sudah membaca semoga tidak ada lagi kabar tentang dia bahwa dia sedang sakit amin😦

cekidot~~

Alkisah sepasang suami istri yang hidup saling mencintai di sebuah desa kecil yang penuh kedamaian.
Bagi sang suami, istrinya adalah malaikat yang Tuhan hadiahkan baginya.
Bagi sang istri, suaminya adalah penjaga paling tangguh yang pernah ia temui.
Kisah cinta mereka menjadi legenda di desa itu.
Nama mereka menjadi lambang cinta bagi penduduk desa itu.

Pada suatu pagi.
“Sayang… Aku sakit,” ujar sang istri.
“Apa yang kau rasakan saat ini, Kekasihku?” tanya sang suami sambil menggenggam erat tangan sang istri.
“Aku sakit, Sayang.”
“Bagian tubuh mana yang terasa sakit? Apa yang bisa kulakukan untukmu, Kekasihku?”

Seketika itu juga, sang suami mengambil minyak ramuan tabib tua.
“Tetaplah di tempat tidur, Kekasihku. Akan kuoleskan minyak ini di tubuhmu, agar hilang semua sakit yang kau rasakan. Setelah itu, kau akan kembali sehat.”
Sang istri tak berkata apapun. Ia melakukan setiap permintaan suaminya.

“Tidurlah, Kekasihku. Aku yakin, esok, ketika kau terbangun, kau akan kembali pulih.”
“Terimakasih, Sayang.”

Malam datang. Sang suami terbaring lelap di samping istrinya. Dilingkarkannya tangannya pada tubuh sang istri.
“Jika kekasihku merasakan sakitnya, maka aku pun akan merasakannya dan langsung terbangun. Akan kulakukan apapun untuknya,” pikirnya.
Terlelaplah mereka ditemani nyanyian malam.

 

“Selamat pagi, Kekasihku.”
“Selamat pagi, Sayang.”
“Bagaimana tidurmu?”
“Nyenyak, Sayang. Terimakasih, kau sudah menjagaku.”
“Itu kerinduanku, menjagamu tiap saat, Kekasihku. Apa kau merasa lebih baik pagi ini?”
“…..”
“Katakan sesuatu, Kekasihku. Aku akan melakukan apa pun agar kau kembali sehat.”
“Aku masih sakit, Sayang.”
“Baiklah. Tunggu di sini, Kekasihku.”

Tidak berapa lama, kembalilah sang suami dengan semangkuk bubur ayam, sup jagung manis, dan segelas jus jeruk segar.

“Makanlah, Kekasihku. Kusiapkan semua ini untukmu. Aku berharap, makanan ini akan membuatmu sehat kembali.”
Sang istri tersenyum, bahagia mengetahui betapa suaminya mengasihi dan mencintainya.
“Biarkan aku membantumu, Kekasih. Tidak akan kubiarkan kau terlalu lelah. Kau harus kembali sehat.”
Disuapinya sang istri dengan penuh kelembutan.

Semangkuk bubur ayam, sup jagung manis, dan jeruk segar itu pun habis.

“Beristirahatlah, Kekasihku. Aku akan pergi ke rumah tabib tua dan meminta ramuan mujarabnya.”
“Terimakasih, Sayang.”

Dibaringkannya sang istri. Ia pastikan selimut tebal yang lembut itu menghangatkan tubuh istrinya dari dinginnya hari.

Perjalanan panjang ia tempuh.
Sesampainya di rumah sang tabib, ia ceritakan semua yang ia ketahui tentang istrinya kepada sang tabib. Ia ceritakan pula apa yang sudah ia lakukan untuk sang istri. Tabib tua membuat ramuan mujarab yang ia yakini bisa menyembuhkan berbagai macam penyakit. Kemudian, dituangkannya ramuan itu ke dalam sebuah botol kaca. Diserahkannya botol itu kepada si suami setia.

“Berikan 2 tetes ramuan ini kepada istrimu setiap pagi.”
“Terimakasih, Tabib.”
Lalu diserahkannya sekantung keping berharga kepada sang tabib.

Dengan langkah cepat ia telusuri jalan kecil berbatu itu. Cukup jauh. Tapi ia tidak peduli. Dingin dan kelamnya malam tidak menyurutkan semangatnya. Semua demi sang istri tercinta.

Sesampainya di rumah, segera ia menemui sang istri. Terkejut! Nafasnya tercekat melihat betapa pucatnya wajah sang istri. Segera ia ambil ramuan mujarab sang tabib. Dibangunkannya sang istri.

“Kekasihku, aku di sini. Bangunlah. Minumlah.”
“Sayang…”
“Ya, aku di sini. Jangan takut. Minumlah. Kau akan segera pulih, Kekasihku.”
“Sayang…”
Seketika itu juga diteteskannya 2 tetes ramuan mujarab ke mulut istrinya.
“Beristirahatlah, Kekasihku. Besok kau akan pulih.”
“Sayang…”
“Ssstt… Jangan takut. Aku di sini menjagamu.”

Terlelaplah sang istri dipelukan suaminya.

Pagi itu terasa begitu dingin, walaupun matahari bersinar dengan terik.

“Selamat pagi, Kekasihku. Bagaimana tidurmu?”
“Nyenyak, Sayang.”
“Semangkuk sup merah hangat dan segelas coklat hangat akan membuatmu merasa lebih baik.”
“Terimakasih, Sayang.”

Disuapnya sang istri dengan penuh kasih. Lalu, diberikannya 2 tetes ramuan mujarab.

“Bagaimana perasaanmu saat ini, Kekasihku?”
“Sakit… Sayang…”
“Jangan khawatir, Kekasihku. Ramuan itu akan segera bekerja. Tidak lama lagi kau akan kembali sehat.”
Dipandangnya sang istri dengan tatapan dan senyuman hangat.
“Kekasihku, beristirahatlah. Aku akan pergi ke pasar, menjual beberapa pasang sandal yang sudah aku buat. Hasilnya akan aku gunakan untuk membeli obat untukmu.”
“Sayang…”
“Beristirahatlah… Aku tidak akan lama.”

Sebelum meninggalkan rumah, ia pastikan selimut tebal yang lembut itu menghangatkan tubuh sang istri. Ia kecup kening istrinya, lalu pergi meninggalkannya.
“Sayang…”
“Ya, aku tahu… Aku pun sangat mencintaimu, Kekasihku.”

Ditatapnya kepergian suaminya. Ia hilang dibalik pintu kayu itu. Ia merintih, menahan sakit yang ia rasakan.

Gelapnya hari membawa sang suami kembali ke rumah.
“Ah…ia masih tertidur lelap. Biar kubuatkan makan malam spesial untuknya.”

Semangkuk sup jamur hangat, 1 cangkir teh hangat, dan 1 potong pai apel, semua kesukaan sang istri. Ia bawa dengan senyuman penuh cinta kasih.

“Kekasihku…makan malam spesial untukmu. Semuanya aku siapkan hanya untukmu.”
…..
“Kau tertidur begitu lelap, Kekasihku.”
…..
“Bangunlah. Mari aku bantu.”
…..

Digenggamnya tangan sang istri, dingin.
Dikecupnya kening sang istri, dingin.
“Kekasihku?”
Kletak!
Sebuah pena terjatuh.
Diikuti selembar kertas.
Perlahan, dengan tangan bergetar, ia raih kertas itu.
Nafasnya tercekat, air matanya mengalir tak terhankan.

…..

Erangan kuat yang pilu keluar dari mulutnya.
Sakit. Pedih. Sesal.
Tidak ada lagi yang bisa ia lakukan.
Semua sudah terlambat.

—————————————————–

Surat terakhir sang istri.

“Sayang… Aku tau kau sangat mencintaiku. Kau lakukan semua karena cintamu padaku. Tapi…aku mohon, berhentilah sebentar. Dengarkan aku, Sayang. Selimut hangat itu membuat tubuhku semakin sakit. Sup-sup hangat itu membuat lidahku semakin kaku, hingga tidak dapat kugerakkan. Dua tetes ramuan itu membuat tubuhku semakin lemah. Tapi, demi cintaku padamu, kuterima semua itu, karena aku tidak ingin mengecewakanmu. Aku mencintaimu, Sayang. Sampai akhir hayatku.”