guys saya ingin memposting tentang kelainan yang cenderung dialami oleh wanita🙂

karena saya wanita dan saya mengalaminya, saya ingin berbagi informasi mengenai anemia yang sering saya alami.

nah berikut adalah informansinya😀

cekidot :p

Jumlah zat besi di dalam tubuh bervariasi menurut umur, jenis kelamin dan kondisi fisiologis tubuh (hamil. ada orang dewasa sehat jumlah zat besi diperkirakan lebih dari 4000 mg, dan sekitar 2500 mg terdapat dalam sel darah merah (hemoglobin). zat besi di dalam tubuh sebagian disimpan di hati dalam bentuk ferritin, jumlahnya 1000 mg. Apabila konsumsi zat besi dari makanan tidak cukup, maka zat besi dari ferritin dimobilisasi untuk memproduksi hemoglobin.

Fungsi utama zat besi bagi tubuh adalah untuk mengangkut oksigen (O2) dan karbondioksida (CO2) serta untuk pembentukan darah. jumlah zat besi yang harus diserap tubuh setiap harinya hanya 1 mg atau setara dengan 10-20 mg zat besi yang terkandung dalam makanan. Zat besi dalam pangan nabati berbentuk ikatan ferri,di dalam tubuh ikatan ferri ini harus dipecah terlebih dahulu dalam bentuk ferro oleh getah lambug. Sementara dalam pagan hewani zat besi sudah berada dalam bentuk ikatan ferro yang lebih mudah diserap. dalam bahasa ilmiah zat besi dari pangan hewani sring disebut heme-iron, sedangkan yang berasal dari nabati disebut heme-iron, sedangkan yang berasal dari nabati disebut non heme-iron.

Jumlah zat besi yang dikeluarkan tubuh melalui urin, keringat dan feses sekitar 0,5-1,0 mg perhari. Pada wanita, jumlah zat besi yang dikeluarkan dari tubuh lebih banyak daripada laki-laki yakni dua kali lipat karena adanya menstruasi. Pada saat hamil trimester pertama kebutuhan zat besi sedikit karena tidak terjadinya mentruasi dan pertumbuhan janin masih lambat. Menginjak usia kehamilan trimester kedua s/d trimester ketiga terjadi pertambahan sel darah merah sampai 35% yang equivalen dengan 450 mg besi. Pertambahan ini disebabkan oleh meningkatnya kebutuhan oksigen oleh janin yang harus diangkut oleh sel darah merah. Kemudian pada saat melahirkan akan terjadi kehilangan darah dan diperlukan tambahan besi 300 – 350 mg. Diperkirakan wanita hamil sampai melahirkan memerlukan zat besi lebih kurang 40 mg/hari atau 2 kali lipat kebutuhannya daripada saat kondisi normal (tidak hamil).

Tidak mengherankan bila banyak wanita hamil akhirnya menderita anemia gizi besi karena kebutuhannya meningkat tetapi konsumsi makanannya tidak memenuhi syarat gizi.

Prevalensi anemia pada ibu hamil di indonesia adalah 70%, ini berarti 7 dari 10 wanita hamil menderita anemia. Selain mengkonsumsi makanan yang buruk, anemia pada ibu hamil disebabkan karena kehamilan berulang dalam waktu singkat. Cadangan zat besi ibu yang sebenarnya belum pulih akhirnya terkuras untuk keperluan janin yang dikandung berikutnya. Itulah sebabnya pengaturan jarak kehamilan menjadi penting untuk diperhatikan sehingga ibu siap untuk menerima janin kembali tanpa harus menghabiskan cadangan besinya.

Ibu hamil, karena saking hati-hatinya, suka berpantang (tabu) terhadap makanan-makanan tertentu. Ada yang tidak mau makan telur, daging, hati atau ikan karena alasan yang tidak rasional padahal pandangan tersebut adanya sumber zat besi yang mudah di absorpsi tubuh. Penyuluhan gizi seringa kali tidak berdaya karena sudah menyangkut aspek sosiobudaya yang telah dipercaya masyarakat secara turun-temurun.

Suatu penelitian menunjukkan bahwa angka kematian ibu yang tinggi berhubungan erat dengan anemia yang di deritanya ketika hamil. Anemia juga menyebabkan rendahnya kemampuan jasmani karena sel-sel tubuh tidak tercukupi kebutuhannya akan oksigen. Pada anak-ana yang menderita anemia dilaporkan mempunyai kemampuan mental dan intelektual rendah. Hal ini ditandai dengan sikap apatis, iritabilitas yang tinggi, rendah konsentrasi dan rendah kemampuan belajar.

Penderita anemia berat biasanya juga rentan terhadap infeksi. Hasil penelitian menunjukkan bahwa hewan percobaan yang sedang bunting dan kekurangan zat besi menghasilkan anak-anak yang daya tahannya rendah terhadap infeksi. Hal ini disebabkan karena sel phagosit yang bertugas menangkal bakteri infeksi tidak dapat berfungsi maksimal karena kekurangan besi.

Namun demikian ada jenis-jenis bakteri tertentu yang bahkan tumbuh subur bila lingkungannya banyak menggandung banyak zat besi. Bakteri tersebut adalah shalmonella dan mycrobacterium tuberculosis oleh karena itu untuk kasus anemia ringan dan penderita sudah mempunyai gejala-gejala infeksi sebaiknya jangan diberi suplemen besi, tetapi harus diupayakan perbaikan menu makanannya untuk memenuhi kekurangan zat besinya.

Keadaan kurang zat besi merupakan fenomena yang kompleks. Penyebabnya adalah makanan yang dikonsumsi tidak cukup mengandung zat besi, peningkatan kebutuhan karena kondisi fisiologis (hamil), kehilangan darah karena kecelakaan, dan infeksi (cacingan). Golongan masyarakat yang rawan dengan kondisi adalah masyarakat miskin mereka yang tinggal didaerah yang sanitasi buruk dan golongan rawan gizi (anak-anak/ibu hamil).

Salah satu upaya mengatasi anemia adalah perbaiki menu makanan. Dengan mengkonsumsi daging, ikan dan ayam serta bahan makanan yang banyak mengandung vitamin C untuk membantu penyerapan besi maka kita dapat mencegah anemia. Tetapi cara ini sulit dilakukan oleh masyarakat berpenghasilan rendah.

Sedangkan ibu hamil sangat disarankan untuk minum pil besi selama 3 bulan yang harus diminum setiap hari. Pil ini dibagikan secara gratis melalui kegiatan posyandu. Suatu penelitian menunjukkan bahwa wanita hamil yang tidak minum pil bisa mengalami perunanan ferritin (cadangan besi) cukup tajam sejak minggu ke 12 usia kehamilan.

Fortifikasi adalah upaya lain untuk mengatasi kekurangan zat besi. Prinsip fortifikasi adalah menambahkan zat gizi mikro (zat besi) kedalam bahan makanan yang banyak di konsumsi masyarakat. Bahan makanan yang ditumpangi tersebut disebut wahana. Syarat fortifikasi adalah bahwa jenis bahan makanan yang dijadikan wahana harus diproduksi secara tersentralisir. Dengan demikian pengawasan oleh pemerintah menjadi mudah. Syarat lain adalah bahwa bahan makanan tersebut tidak mengalami perubahan warna maupun rasa serta harganya masih tetap terjangkau oleh masyarakat.

Di Amerika dan negara-negara eropa tepung gandum dan roti telah di fortifikasi dengan sukses. Zat besi yang di tambahkan dalam fortifikasi tersebut dapat memenuhi 20 % angka kecukupan gizi yang dianjurkan. di filiphina fortifikasi besi dilakukan pada beras, tetapi efektivitasnya belum diketahui. Di India fortifikasi garam dapur dengan zat besi telah dapat diterima oleh masyarakat. Sementara di Indonesia sampai saat ini baru fortifikasi garam dengan iodium yang telah dilakukan oleh pemerintah dalam rangka menanggulangi masalah GAKI (gangguan Akibat kekurangan Iodium).

Banyak masyarakat yang menganggap bahwa anemia hanya disebabkan karena kekurangan zat besi. sebenarnya anemia dapat pula terjadi karena defisiensi vitamin B12 atau defisiensi asam folat. orang vegetarian yang konsumsi makanannya tidak megandung sedikit sekali vitamin B12 cenderung menderita anemia jenis ini.

Gejala-gejal anemia karena kekurangan vitamin B12 atau asam folat adalah lesu badan, lemah, dan gangguan intestinal yang menyebabkan diare atau konstipasi (sulit buang air besar). defisiensi vitamin B12 juga ditandai dengan gejala kesemutan pada anggota gerak lengan dan kaki, lemahnya kontrol otot, dan lemahnya ingatan. Intisari